Pemurnian Protein

1. Saliva

Saliva adalah sekresi yang berkaitan dengan mulut, diproduksi oleh tiga padang kelenjar saliva utama: kelenjar sublingual, submandibula dan parotis. Yang terletak diluar rongga mulut dan menyalurkan saliva melalui duktus-duktus pendek kedalam mulut. Pada saliva mengandung beberapa elektrolit (Na+, K+, Cl-, HCO3+, Ca2+, Mg2+HPO42+, SCN-, F-), protein (amilase, musin, histatin, cystatin, peroxidase, lisozim dan laktoferin), immonuglobulin (sIgA, Ig G, dan Ig M), molekul organik (glukosa, asam amino, urea, asam uric dan lemak) dan komponen-komponen lain seperti Epidermal Growth Factor (EGF), insulin, cyclic adenosine monophosphate binding protein dan serum albumin.

Fungsi saliva / air liur sebagai berikut :

1. Menghaluskan dan membentuk makanan menjadi bolus-bolus sehingga dapat ditelan dengan mudah.

2. Melarutkan makanan secara kimia untuk pengecapan rasa

3. Melembabkan dan melumasi makanan sehingga dapat ditelan.

4. Saliva juga memberikan kelembaban pada bibir dan lidah sehingga terhindar dari kekeringan.

5. Memecah karbohidrat,zat tepung menjadi polisakarida dan maltose, suatu disakarida. ( karena adanya enzim amilase dalam saliva).

6. Berfungsi untuk membersihkan rongga mulut dan gigi serta mencegah kerusakan gigi oleh karena ada zat antibakteri dan antibodi dalam saliva.

7. Mencegah kerusakan dan erosi pada gigi.

8. Meminimalisir keasaman dalam rongga mulut, mencegah kerusakan struktur gigi saat terjadi muntah.

9. Proses remineralisasi karena dalam saliva terkandung Ion-ion seperti Ca, P.

10. Membantu proses bicara dengan memudahkan gerakan bibir dan lidah.

Aliran saliva lambat sehingga saliva yang sampai dimulut bersifat hipotonik, agak asam, kaya K+ tetapi kurang Na+ dan Cl-. Jika aliran cepat komposisi ion tidak cukup waktu untuk berubah di dalam duktus, sehingga saliva bersifat isotonic dengan konsentrasi Na+ dan Cl- yang lebih tinggi.

 

2. Pemurnian Protein

Langkah pertama dalam pemurnian protein tertentu kebanyakan dilakukan dengan teknik pengendapan. Teknik ini terutama ditujukan untuk memisahkan protein dari senyawaan bukan protein yang terlarut. Protein dapat diendapkan dengan penambahan garam (salting out), pengaturan pH, pengaturan suhu dan penambahan pelarut organic seperti alcohol atau aseton. Namun beberapa jenis protein tidak dapat diendapkan dengan garam, bahkan penambahan garam akan mempertinggi kelarutannya (salting in). Sifat protein seperti ini dapat juga digunakan untuk pemurnian protein tersebut. Sentrifugasi banyak digunakan untuk mempercepat pengendapan protein (Tim Penyusun, 2009). Prinsip utama sentrifugasi adalah memisahkan substansi berdasarkan berat jenis molekul dengan cara memberikan gaya sentrifugal sehingga substansi yang lebih berat akan berada di dasar, sedangkan substansi yang lebih ringan akan terletak di atas. Teknik sentrifugasi tersebut dilakukan di dalam sebuah mesin yang bernama mesin sentrifugasi dengan kecepatan yang bervariasi, contohnya 2500 rpm (rotation per minute) atau 3000 rpm (Holme and Peck, 1993).

 

3. Fraksinasi dengan salting out

Banyak metode yang digunakan untuk fraksinasi protein terutama berdasarkan ukuran molekul dari protein. Sebagai contoh, protein yang diangkat dari larutan dengan menambahkan garam, proses dari ukuran molekul protein yang lebih besar ke ukuran yang lebih kecil. Peristiwa pemisahan atau pengendapan protein oleh garam berkonsentrasi tinggi disebut “salting out”. Metode “salting out” ini mungkin bergantung pada fenomena fisik, dua fenomena tersebut yang penting di antaranya adalah penghentian dari daya tarik dari permukaan protein oleh ion garam dan perpindahan air dari sekitar molekul protein oleh kompetisi dari ion dari garam dengan air (Cantarow and Schepartz, 1963).

Salting out merupakan metode yang digunakan untuk memisahkan protein yang didasarkan pada prinsip bahwa protein kurang terlarut ketika berada pada daerah yang konsentrasi kadar garamnya tinggi. Konsentrasi garam diibutuhkan oleh protein untuk mempercepat keluarnya larutan yang berbeda dari protein satu ke protein yang lainnya (Mayes dkk, 1990).

Pengaruh penambahan garam terhadap kelarutan protein berbeda-beda, tergantung pada konsentrasi dan jumlah muatan ionnya dalam larutan. Semakin tinggi konsentrasi dan jumlah muatan ionnya, semakin efektif garam dalam mengendapkan protein (Yazid dan Nursanti, 2006).

Suatu campuran protein, seperti yang dapat diekstraksi dari jaringan dengan menggunakan atau larutan garam encer, dapat dipisah-pisahkan dengan penambahan sedikit demi sedikit ammonium sulfat. Pertama-tama globulin akan diendapkan dan kemudian dapat dipisahkan dengan sentrifus atau dengan penyaringan. Albumin mengendap apabila ammonium sulfat dalam larutan tersebut telah jenuh. Pemisahan dengan menggunakan garam ini, digabungkan dengan perubahan keadaan keasaman larutan dapat memisahkan campuran protein dengan cukup baik. Pemurnian selanjutnya mungkin memerlukan prosedur kromatografi yang lebih teliti (Montgomery dkk, 1993).

Kelarutan protein akan berkurang bila kedalam larutan protein ditambahkan garam- garam anorganik. Pengendapan terus terjadi karena kemampuan ion garam untuk menghidrasi, sehingga terjadi kompetisi antara garam anorganik dengan molekul protein untuk mengikat air. Karena garam anorganik lebih menarik air maka jumlah air yang tersedia untuk molekul protein akan berkurang (Mayes dkk, 1990).

4. Lactate dehydrogenase (LDH)

Lactate dehydrogenase (LDH) adalah salah satu enzim yang termasuk golongan oksireduktase yang mengkatalisi reaksi glikolisis dan terdapat pada sel-sel jaringan tubuh. LDH terdapat pada hampir semua sel yang bermetabolisme, dengan konsentrasi tertinggi dijumpai di jantung, otot rangka, hati, ginjal, otak, dan sel darah merah. LDH merupakan suatu molekul tetramerik yang mengandung empat subunit dari dua bentuk; H (jantung) dan M (otot), yang berkombinasi sehingga menghasilkan lima isoenzim yang diberi nama LDH1 (H4) sampai LDH5 (M4). Isoenzim-isoenzim tersebut memiliki spesifisitas jaringan yang sangat berguna dalam menentukan organ asal, yaitu :

 

    LDH1 (HHHH) terdapat di jantung, eritrosit, otak

 

    LDH2 (HHHM) terdapat di jantung, eritrosit, otak

 

    LDH3 (HHMM) terdapat di paru, otak, ginjal, limpa, pankreas, adrenal, tiroid

 

    LDH4 (HMMM) terdapat di hati, otot rangka, ginjal

 

    LDH5 (MMMM) terdapat di hati, otot rangka, ileum

 

 

About these ads

4 thoughts on “Pemurnian Protein

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s