Ta’aruf dengan Diabetes Melitus

          Dengar nama penyakit ini sepertinya teman-teman sudah tak asing lagi ya! Karena Diabetes ini merupakan penyakit yang sedang ngtren di dunia. Bahkan di Amerika  Diabetes melitus menjadi penyebab kematian ke tiga dan semakin lama memang penderitanya semakin meningkat. Dikutip dari nasional sindonews “Indoneisa merupakan negara urutan ke 7 dengan prevalensi diabetes tertinggi, dibawah Cina, India, USA, Brazil, Rusia dan Mexico,” kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Dirjen P2PL) Tjandra Yoga Aditama, Selasa (3/9/2013). Dengan menempati urutan ke 7 jelas besar sekali ya jumlahnya.   Baiklah, untuk lebih memahami penyakit diabetes melitus mari kita kenali terlebih dahulu !

          Ketika kita makan makanan yang mengandung karbohidrat, karbohidrat tersebut akan diubah dari bentuk yang kompleks menjadi bentuk yang sederhana. Misalnya dari polisakarida atau disakarida menjadi bentuk yang paling sederhana yaitu monosakarida, dalam bentuk inilah makanan dapat terabsorpsi atas diserap dalam saluran pencernaan yaitu duedenum dan jejenum proksimal. Nah, setelah diabsorpsi maka kadar glukosa darah akan meningkat untuk sementara waktu dan akan kembali ke dalam kadar yang normal dalam beberapa jam karena glukosa yang masuk ke dalam hati akan diubah menjadi glikogen oleh bantuan hormon insulin yang disekresikan oleh sel-sel beta pulau langerhans pankreas. Namun, pada keadaan patologis glukosa tidak diubah menjadi glikogen yang akan disimpan dijaringan otot dan adiposa sebagai cadangan energi. Inilah yang disebut dengan diabetes melitus atau diabetes melitus juga dapat diartikan sebagai gangguan metabolisme dimana kandungan glukosa dalam darah berlebih dan sulit untuk kembali ke dalam kadar glukosa yang normal.

          Ada beberapa tipe diabetes melitus yang dibedakan berdasarkan penyebab penyakitnya, yaitu:

  • Tipe 1, diabetes melitus tipe ini lebih disebabkan karena adanya perusakan sel-sel pulau langerhans pangkreas, hal tersebut ada kaitannya dengan tipe-tipe histokompatibilitas (human leukocyte antigen (HLAI) spesifik. Tipe dari gen histokompatibilitas yang berkaitan dengan diabetes tipe 1 (DW3 dan DW4) adalah yang memerikan kode kepada protein-protein yang berperan penting dalam interaksi monosit-limposit. Protein-protein ini mengatur respon sel T yang merupakan bagian normal dari respon imun. Jika terjadi kelainan, fungsi limfosit T yang terganggu akan berperan penting dalam perusakan sel-sel pulau langerhans. Karena sel-sel yang mensekresikan hormon insulinnya yang rusak maka penderita diabetes tipe ini perlu asupan insulin dari luar.
  • Tipe 2, ditandai dengan kelainan sekresi insulin serta kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraseluler yang menyebabkan mobilisasi pembawa GLUT 4 glukosa dan meningkatkan transpor glukosa menembus membran sel. Pasian pasien-pasien dengan diabetes tipe 2 terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Kelainan ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor pada membran sel yang selnya responsif  terhadap insulin atau akibat ketidaknormalan reseptor insulin intrinsik.
  • Diabetes gestasional (GDM) merupakan diabetes selama kehamilan. Hal ini disebabkan karena ketika hamil terdapat peningkatan sekresi berbagai hormon yang mempunyai efek metabolik terhadap toleransi glukosa, maka kehamilan adalah adalah suatu keadaan diabetogenik.
  • Tipe khusus lain salah satunya yaitu kelainan genetik dalam sel beta seperti dikenali pada diabetes awitan dewasa muda (MODY). Diabetes subtipe ini memiliki prevalensi familial yang tinggi dan bermanifestasi sebelum usia 14 tahun. Pasien seringkali obesitas dan resisten terhadap insulin. Kelainan genetik telah dikenali dengan baik dalam empat bentuk mutasi dan fenotif yang berbeda (MODY1, MODY2, MODY3, MODY4).

          Gejala yang dapat dikenali jika seseorang terkena diabetes melitus yaitu poliuria (meningkatnya pengeluaran urine), polidipsia (timbul rasa haus), polifagia (rasa lapar yang meningkat), mungkin akan timbul sebagai akibat kegilangan kalori, pasien dapat mengeluh lelah dan mengantuk.

          Hal yang paling mengkhawatirkan untuk penderita penyakit diabetes adalah komplikasi penyakitnya. Komplikasi-komplikasi penyakit ini dibagi menjadi dua kategori yaitu komplikasi metabolik akut dan komplikasi-komplikasi vaskular jangka panjang.

  1. Komplikasi metabolik diabetes disebabkan oleh perubahan yang relatif akut dari konsentrasi glukosa plasma. Komplikasi metabolik yang paling serius pada diabetes tipe 1 adalah ketoasidosis diabetik. Apabila kadar insulin sangat menurun, pasien mengalami hiperglikemia dan glukosuria berat, penurunan lipogenesis, peningkatan lipolisis, dan peningkatan oksidasi asam lemak bebas disertai pembentukan benda keton (asetoasetat, hidroksibutirat, dan aseton) atau disebut juga ketosis. Glukosuria dan ketosis mengakibatkan diuresis osmotik dengan hasil akhir dehidrasi dan kehilangan elektrolit. Efek yang paling fatal hingga dapat menyebabkan kematian.
  2. Komplikasi kronik jangka panjang dari diabetes melibatkan pembuluh-pembuluh kecil-mikroangiopati dan pembuluh-pembuluh sedang dan besar makroangiopati. Komplikasi yang melibatkan mikroangiopati ini dapat mengakibatkan kebutaan yang disebabkan oleh penimbunan glikoprotein. Sedangkan komplikasi yang melibatkan makroangiopati diabetik mempunyai gambaran histopatologis berupa aterosklerosis. Gabungan dari gangguan biokimia yang disebabkan oleh insufisiensi insulin dapat menjadi penyebab jenis penyakit vaskular ini. Gangguan-gangguan ini berupa penimbunan sorbitol dalam intima vaskular, hiperlipoproteinemia, dan kelainan pembekuan darah.

Nah, sekarang ini memang banyak obat untuk antidiabetes namun tetap dengan berbagai efek sampingnya. Oleh karena itu, perbaikan pola hidup untuk pencegahan penyakit diabetes lebih baik dari pada mengobati bukan ? ^_^

Semoga bermanfaat…

 

 

 

 

 

Pustaka: Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. 2005. Patofosiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6. Jakarta: EGC.

Hati-hati dengan Penyakit Diabetes

Hingga kini, penyakit diabetes menjadi salah satu penyakit yang menakutkan. Pasalnya penyakit ini dapat menjadi  memicu penyakit lainnya, seperti, hipertensi, gangguan ginjal, arterosklerosis (penyempitan pembuluh darah), hiperlipidemia dan lain sebagainya.

Menurut data statistik jumlah penderita diabetes di dunia versi WHO (World Health Organization), pada tahun 2000, Indonesia menduduki peringkat keempat dengan jumlah sebesar 8.426.000 orang.

WHO memprediksi pada tahun 2030, penderita diabetes di Indonesia akan menjadi 22 juta.

Diabetes adalah suatu penyakit yang mengganggu kemampuan tubuh untuk menggunakan sari-sari makanan secara efisien. Hormon insulin yang diproduksi di dalam pankreas, membantu tubuh dalam mengubah makanan menjadi energi. Diabetes terjadi bila satu dari dua kondisi ini terjadi, pankreas gagal memproduksi insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang telah diproduksinya.

Pada saat makan, pankreas melepaskan insulin ke dalam aliran darah untuk membantu proses penghancuran dan penyerapan glukosa, asam lemak, dan asam amino. Apabila pankreas tidak menghasilkan insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin sebagaimana mestinya, makanan yang dikonsumsi tidak dapat dicerna oleh tubuh. Bila pankreas menghasilkan insulin, tetapi tubuh tidak memberikan reaksi apapun, keadaan seperti ini disebut resistensi insulin. Hal ini umum terjadi pada orang-orang yang memiliki berat badan berlebih saat usia beranjak tua. karena itu, produksi insulin harus di tingkatkan untuk mengurangi efeknya. Alhasil, glukosa yang berlebih ditimbun di dalam darah alih-alih digunakan sebagai tenaga atau disimpan sebagai lemak. Bila kandungan glukosa didalam darah tinggi, ginjal tidak dapat memproses glukosa dan akhirnya dikeluarkan melalui urin (Peter dkk, 2006).

Deteksi awal untuk mengetahui kadar gula dalam darah tinggi, biasanya penderita terus-menerus merasa haus, buang air kecil dengan intensitas yang lebih sering, lemas, dan susah tidur. Untuk menjaga agar kadar gula dalam darah tetap normal harus dilakukan diet asupan makanan. Asupan karbohidrat apalagi lemak berlebih dapat memicu kadar gula naik, sehingga takaran makanan plus gizi-gizi yang seimbang sangat diperlukan.

Saat ini banyak sekali tumbuhan alami yang telah di uji dan terbukti memiliki efek menurunkan kadar gula dalam darah, diantaranya kayu manis (Cinnamomum verum), manggis (Garcinia mangostama) biasanya bagian kulitnya yang berkhasiat, mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), brotowali (Tinospora crispa L), mengkudu (Morinda citrifolia L), teh hijau (Camelia Sinensis) dan masih banyak lagi lainnya.

Ayooo sayangi darahmu.. ^_^

 

 

 

Pertanyaan sederhana yang ingin dilontarkan kepada seseorang yang sangat, sangat saya hormat, ” … apa kunci sukses dunia dan akhirat???”

Pertanyaan itu muncul di kepala, dan belum sempat dilontarkan.. ada yang mau bantu jawab???
 

Pemurnian Protein

1. Saliva

Saliva adalah sekresi yang berkaitan dengan mulut, diproduksi oleh tiga padang kelenjar saliva utama: kelenjar sublingual, submandibula dan parotis. Yang terletak diluar rongga mulut dan menyalurkan saliva melalui duktus-duktus pendek kedalam mulut. Pada saliva mengandung beberapa elektrolit (Na+, K+, Cl-, HCO3+, Ca2+, Mg2+HPO42+, SCN-, F-), protein (amilase, musin, histatin, cystatin, peroxidase, lisozim dan laktoferin), immonuglobulin (sIgA, Ig G, dan Ig M), molekul organik (glukosa, asam amino, urea, asam uric dan lemak) dan komponen-komponen lain seperti Epidermal Growth Factor (EGF), insulin, cyclic adenosine monophosphate binding protein dan serum albumin.

Fungsi saliva / air liur sebagai berikut :

1. Menghaluskan dan membentuk makanan menjadi bolus-bolus sehingga dapat ditelan dengan mudah.

2. Melarutkan makanan secara kimia untuk pengecapan rasa

3. Melembabkan dan melumasi makanan sehingga dapat ditelan.

4. Saliva juga memberikan kelembaban pada bibir dan lidah sehingga terhindar dari kekeringan.

5. Memecah karbohidrat,zat tepung menjadi polisakarida dan maltose, suatu disakarida. ( karena adanya enzim amilase dalam saliva).

6. Berfungsi untuk membersihkan rongga mulut dan gigi serta mencegah kerusakan gigi oleh karena ada zat antibakteri dan antibodi dalam saliva.

7. Mencegah kerusakan dan erosi pada gigi.

8. Meminimalisir keasaman dalam rongga mulut, mencegah kerusakan struktur gigi saat terjadi muntah.

9. Proses remineralisasi karena dalam saliva terkandung Ion-ion seperti Ca, P.

10. Membantu proses bicara dengan memudahkan gerakan bibir dan lidah.

Aliran saliva lambat sehingga saliva yang sampai dimulut bersifat hipotonik, agak asam, kaya K+ tetapi kurang Na+ dan Cl-. Jika aliran cepat komposisi ion tidak cukup waktu untuk berubah di dalam duktus, sehingga saliva bersifat isotonic dengan konsentrasi Na+ dan Cl- yang lebih tinggi.

 

2. Pemurnian Protein

Langkah pertama dalam pemurnian protein tertentu kebanyakan dilakukan dengan teknik pengendapan. Teknik ini terutama ditujukan untuk memisahkan protein dari senyawaan bukan protein yang terlarut. Protein dapat diendapkan dengan penambahan garam (salting out), pengaturan pH, pengaturan suhu dan penambahan pelarut organic seperti alcohol atau aseton. Namun beberapa jenis protein tidak dapat diendapkan dengan garam, bahkan penambahan garam akan mempertinggi kelarutannya (salting in). Sifat protein seperti ini dapat juga digunakan untuk pemurnian protein tersebut. Sentrifugasi banyak digunakan untuk mempercepat pengendapan protein (Tim Penyusun, 2009). Prinsip utama sentrifugasi adalah memisahkan substansi berdasarkan berat jenis molekul dengan cara memberikan gaya sentrifugal sehingga substansi yang lebih berat akan berada di dasar, sedangkan substansi yang lebih ringan akan terletak di atas. Teknik sentrifugasi tersebut dilakukan di dalam sebuah mesin yang bernama mesin sentrifugasi dengan kecepatan yang bervariasi, contohnya 2500 rpm (rotation per minute) atau 3000 rpm (Holme and Peck, 1993).

 

3. Fraksinasi dengan salting out

Banyak metode yang digunakan untuk fraksinasi protein terutama berdasarkan ukuran molekul dari protein. Sebagai contoh, protein yang diangkat dari larutan dengan menambahkan garam, proses dari ukuran molekul protein yang lebih besar ke ukuran yang lebih kecil. Peristiwa pemisahan atau pengendapan protein oleh garam berkonsentrasi tinggi disebut “salting out”. Metode “salting out” ini mungkin bergantung pada fenomena fisik, dua fenomena tersebut yang penting di antaranya adalah penghentian dari daya tarik dari permukaan protein oleh ion garam dan perpindahan air dari sekitar molekul protein oleh kompetisi dari ion dari garam dengan air (Cantarow and Schepartz, 1963).

Salting out merupakan metode yang digunakan untuk memisahkan protein yang didasarkan pada prinsip bahwa protein kurang terlarut ketika berada pada daerah yang konsentrasi kadar garamnya tinggi. Konsentrasi garam diibutuhkan oleh protein untuk mempercepat keluarnya larutan yang berbeda dari protein satu ke protein yang lainnya (Mayes dkk, 1990).

Pengaruh penambahan garam terhadap kelarutan protein berbeda-beda, tergantung pada konsentrasi dan jumlah muatan ionnya dalam larutan. Semakin tinggi konsentrasi dan jumlah muatan ionnya, semakin efektif garam dalam mengendapkan protein (Yazid dan Nursanti, 2006).

Suatu campuran protein, seperti yang dapat diekstraksi dari jaringan dengan menggunakan atau larutan garam encer, dapat dipisah-pisahkan dengan penambahan sedikit demi sedikit ammonium sulfat. Pertama-tama globulin akan diendapkan dan kemudian dapat dipisahkan dengan sentrifus atau dengan penyaringan. Albumin mengendap apabila ammonium sulfat dalam larutan tersebut telah jenuh. Pemisahan dengan menggunakan garam ini, digabungkan dengan perubahan keadaan keasaman larutan dapat memisahkan campuran protein dengan cukup baik. Pemurnian selanjutnya mungkin memerlukan prosedur kromatografi yang lebih teliti (Montgomery dkk, 1993).

Kelarutan protein akan berkurang bila kedalam larutan protein ditambahkan garam- garam anorganik. Pengendapan terus terjadi karena kemampuan ion garam untuk menghidrasi, sehingga terjadi kompetisi antara garam anorganik dengan molekul protein untuk mengikat air. Karena garam anorganik lebih menarik air maka jumlah air yang tersedia untuk molekul protein akan berkurang (Mayes dkk, 1990).

4. Lactate dehydrogenase (LDH)

Lactate dehydrogenase (LDH) adalah salah satu enzim yang termasuk golongan oksireduktase yang mengkatalisi reaksi glikolisis dan terdapat pada sel-sel jaringan tubuh. LDH terdapat pada hampir semua sel yang bermetabolisme, dengan konsentrasi tertinggi dijumpai di jantung, otot rangka, hati, ginjal, otak, dan sel darah merah. LDH merupakan suatu molekul tetramerik yang mengandung empat subunit dari dua bentuk; H (jantung) dan M (otot), yang berkombinasi sehingga menghasilkan lima isoenzim yang diberi nama LDH1 (H4) sampai LDH5 (M4). Isoenzim-isoenzim tersebut memiliki spesifisitas jaringan yang sangat berguna dalam menentukan organ asal, yaitu :

 

    LDH1 (HHHH) terdapat di jantung, eritrosit, otak

 

    LDH2 (HHHM) terdapat di jantung, eritrosit, otak

 

    LDH3 (HHMM) terdapat di paru, otak, ginjal, limpa, pankreas, adrenal, tiroid

 

    LDH4 (HMMM) terdapat di hati, otot rangka, ginjal

 

    LDH5 (MMMM) terdapat di hati, otot rangka, ileum